Polrestabes Surabaya Cek Lokasi Penganiayaan Oknum Wartawan Saat Minta Sumbangan

LENSAINDONESIA.COM: Upaya mediasi yang dilakukan Polsek Simokerto dalam kasus dugaan penganiayaan oknum wartawan, SA terhadap waitress dan pemilik Kafe Santoso Jl Kenjeran, Surabaya, gagal dilakukan setelah adanya permintaan uang dalam nominal yang tak masuk akal.

Dalam mediasi yang dilakukan di ruang rapat Polsek Simokerto, Senin (22/1/2018), Kapolsek Kompol Masdawati menyatakan pihaknya tetap akan bersikap netral dalam penanganan kasus hukum masalah ini. “Kami sengaja mempertemukan kedua belah pihak dan agar masalah ini bisa dapat diselesaikan,” terangnya.

Namun Kompol Masdawati menegaskan pihaknya tidak akan melakukan intervensi terhadap kedua belah pihak yang saling lapor dalam kasus dugaan penganiayaan tersebut. “Kami mempersilakan kedua pihak akan melanjutkan proses hukum. Namun bila menempuh jalur mediasi dan kekeluargaan, kami sangat mengapresiasi,” tambahnya.

Kedua belah pihak yang setuju anjuran mediasi tersebut, SA melalui kuasa hukumnya Eko Santoso menyatakan sangat menyambut baik proses mediasi tersebut.” Kami sangat menyambut baik proses ini. Namun sebagai kuasa hukum kami kembalikan pada klien, karena dia merasa diperlakukan tidak baik,” ungkap Eko.

Namun dengan alasan tertentu, Eko meminta agar mediasi tersebut dilakukan secara tertutup di ruang Kapolsek. “Kami minta mediasi dilakukan secara tertutup di ruangan Ibu Kapolsek, agar tidak ada terjadinya fitnah,” tambahnya.

Pantauan Lensa Indonesia di Mapolsek Simokerto, dalam mediasi di ruangan Kapolsek Simokerto, kedua pihak gagal menemukan titik temu akibat permintaan nominal yang tak masuk akal. “Informasinya ada pihak yang minta ganti rugi hingga ratusan juta Rupiah dengan dalih biaya pengobatan dan rasa malu. Akhirnya mediasi gagal dan kedua pihak sepakat kasus diteruskan sesuai aturan hukum yang berlaku. Nanti saya kasih rekamannya kalau memang diperlukan,” terang sumber di Kepolisian yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Ditemui usai mediasi, Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati membenarkan proses mendamaikan kedua pihak menemui kegagalan. “Karena dalam mediasi tersebut tidak ada titik temu, kami akan proses secara prosedur (hukum),” jelasnya.

Saat ditanya tentang adanya pihak yang meminta gantu rugi hingga ratusan juta Rupiah, Kompol Masdawati enggan berkomentar. “Info dari siapa ya? Gini Mas, yang jelas sesuai perintah Kapolrestabes Surabaya, kasus saling lapor dalam dugaan penganiayaan ini akan kami proses sesuai aturan berlaku setelah proses mediasi gagal,” jelasnya.

Pemilik Kafe Santoso yang akrab dipanggil Ciker saat dikonfirmasi juga enggan berkomentar dan berusaha meyakinkan bahwa pihaknya adalah korban. “Waitress saya dipukul dan dipiting dari belakang, saya juga kena pukulan. Tapi kok malah seakan-akan kami dituduh sebagai pelaku. Kami ini korban tapi ada permintaan uang damai yang tak masuk akal. Silahkan tanya Kapolsek saja Mas untuk jelasnya,” terangnya sambil berlalu dari Mapolsek Simokerto.

Seperti diberitakan sebelumnya, SA, oknum wartawan di Surabaya dilaporkan ke Polsek Simokerto dan Polrestabes Surabaya karena diduga nekat melakukan penganiayaan saat mengirim proposal permohonan bantuan sumbangan untuk acara ulang tahun kantornya.

Kasus bermula ketika SA, pada Senin (11/12/2017) sekitar pukul 21.00 WIB, mendatangi Kafe Santoso di Jl Kenjeran. Dengan membawa proposal berisi kuitansi kosong untuk permohonan bantuan sumbangan, oknum wartawan ini langsung masuk menuju kasir.

Salah satu karyawan Kafe Santoso yang menerima proposal sempat melihat perbedaan nama kafe di kop surat. “Mas, ini di amplopnya tertulis Kafe Grand/Scorpion, bukan Kafe Santoso. Kalau Kafe Grand yang di sebelah timur sana Mas,” ujar salah satu waiter.

Spontan SA mencoret tulisan Kafe Grand dan menggantinya dengan tulisan tangan jadi Kafe Santoso, sambil meminta ketemu dengan pemilik kafe. Dia juga berusaha mengambil rekaman video menggunakan ponsel sehingga membuat sejumlah pengunjung merasa tidak nyaman.

Melihat itu, salah satu waitress, Ikhtiya (47), berusaha menegur agar SA tak meneruskan mengambil gambar di dalam kafe. Namun teguran itu tak digubris SA, sehingga Ikhtiya merespon dengan mengambil foto oknum wartawan tersebut dari ponselnya.

Melihat dirinya difoto Ikhtiya, emosi SA terpancing dan berusaha merampas ponsel waitress tersebut. Ikhtiya lalu berusaha sekuat tenaga mempertahankan ponselnya. Tapi SA kemudian memiting (mengunci leher) waitress tersebut dari belakang sambil tangannya memukul wajah Ikhtiya yang mengakibatkan bibir korban berdarah.

Mendengar ada ribut-ribu, pemilik Kafe Santoso yang akrab dipanggil Ciker, langsung melerai dan membawa SA keluar. Keduanya lalu terlibat adu mulut di halaman kafe.

Di halaman parkir, Ciker mengaku dipukul lebih dulu oleh oknum wartawan SA. Karena merasa kesakitan dia merespon balik dengan mendorong tubuh SA. Untung saja 4 petugas Polsek Simokerto yang kebetulan standby di pos kring serse tak jauh dari lokasi, segera datang dan berhasil meredam keributan. “Saya melihat karyawan saya lehernya dipiting dan bibirnya berdarah kena pukulan. Otomatis saya membawa SA keluar untuk melerai. Lha kok saya dipukul dan kepalanya disundulkan ke wajah saya. Untung ada bapak-bapak polisi yang datang,” terangnya.

Tak terima dengan perlakuan SA, Ikhtiya saat itu juga mendatangi Mapolsek Simokerto untuk melaporkan kasus penganiayaan ini. Setelah melakukan visum, dia menerima tanda bukti lapor LP/124/XII/2017/SMKT, dengan nama terlapor Syamsul Arifin, alamat Jl Kalimas Baru III. “Pokoknya saya, suami dan keluarga saya gak terima dengan tindakannya (SA) dan akan terus menuntut sampai proses hukumnya berjalan di pengadilan,” tegasnya.

Hal yang sama juga dilakukan Ciker. Pemilik Kafe Santoso ini juga melaporkan kasus penganiayaan ini ke Polrestabes Surabaya karena bibir dalamnya pecah kena pukulan dan dahinya tergores. Usai melakukan visum, dirinya mendapat surat tanda lapor polisi nomor: STTLP/950/XII/2017/Jatim/Restabes Surabaya. “Saya juga sudah laporkan masalah ini Mas. Dia datang bawa proposal permohonan sumbangan kok sikapnya arogan seperti itu. Saya ingin dapat keadilan,” jelasnya.

Sementara itu, SA yang mengetahui dirinya dilaporkan dalam kasus penganiayaan kabarnya juga melapor ke Polsek Simokerto, dengan mengaku jadi korban pengeroyokan. @rofik

Sumber

Minta ganti rugi tak masuk akal, kasus penganiayaan Kafe Santoso gagal dimediasi