OJK: Realisasi KUR Di Bali Masih Rendah

Angin segar datang dari perbankan di Tanah Air yang diyakini masih bisa menurunkan suku bunga kredit tahun ini, meski ada tantangan global seiring rencana The Fed menaikkan suku bunga acuan AS. Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan menaikkan suku bunga acuan setelah Bank Sentral AS tersebut menaikkan Fed funds rate, yang bisa berdampak mendorong peningkatan bunga deposito kita.

Ruang penurunan tersebut diyakini masih ada, karena transmisi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) melalui penurunan suku bunga acuannya masih lambat memangkas suku bunga kredit perbankan. Bank Sentral Indonesia ini sudah menurunkan BI 7-day reverse repo rate 200 basis poin (bps) sejak awal 2016 hingga akhir 2017, tetapi tingkat bunga kredit perbankan di dalam negeri hanya turun 153 bps atau 77 persen.

Dengan saat ini suku bunga acuan BI tersebut berada pada posisi 4,25 persen, tingkat bunga kredit investasi masih sebesar 10,51 persen dan untuk kredit modal kerja (KMK) 10,75 persen. Bahkan, rata-rata suku bunga kredit konsumsi masih mencapai 12,54 persen.

Sementara itu, transmisi penurunan suku bunga deposito melaju lebih kencang, mencapai 187 bps atau 94 persen. Rata-rata bunga deposito perbankan kini berada di level 6,07 persen.

Penurunan suku bunga kredit perbankan di tengah potensi kenaikan suku bunga deposito tentu saja menguntungkan masyarakat secara umum, kalangan usaha, maupun ekonomi nasional. Pengusaha diuntungkan karena beban bunga kreditnya terpangkas. Apalagi, selama ini, bunga kredit di Indonesia masih tinggi dibanding negara-negara tetangga, meski untuk perusahaan besar mendapatkan "fasilitas" tingkat bunga kredit yang lebih rendah ketimbang usaha kecil. Sedangkan saat menyetor deposito, pengusaha mendapatkan bunga lebih tinggi karena dananya besar.

Tahun ini, kita berharap potensi penurunan suku bunga kredit tersebut benar-benar bisa direalisasikan. Paling tidak, semakin mendekati tingkat bunga bank-bank di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di sisi lain, tingkat bunga deposito yang bagus juga masih dibutuhkan untuk menarik masyarakat kita menyimpan uang di bank, mengingat penetrasi perbankan di Indonesia masih rendah. Masih banyak masyarakat kita yang lebih suka memegang uang tunai saja.

Realisasi penurunan suku bunga kredit yang lebih signifikan ini sebenarnya yang dituju saat BI melonggarkan kebijakan moneter, dengan menurunkan suku bunga acuan. Hal ini layak dikejar untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang masih gagal mencapai target, bahkan dalam beberapa tahun terakhir terjebak di kisaran kurang-lebih 5 persen.

Padahal, tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 5,5 persen, bahkan pada 2012 di atas 6,2 persen. Sementara itu, periode 2014-2017, ekonomi hanya tumbuh 5,02 persen, 4,88 persen, 5,03 persen, dan 5,07 persen.

Penurunan bunga kredit ini diharapkan dapat mendongkrak investasi guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, lewat ekspansi kredit murah. Jika dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan kredit jatuh di bawah single digit, tahun ini diharapkan naik kembali ke double digit, setidaknya 10-12 persen.

Apalagi, tahun ini belanja masyarakat diproyeksikan meningkat, antara lain didorong program padat karya yang didanai dari dana desa Rp 60 triliun, yang mempekerjakan langsung masyarakat lokal. Selain itu, belanja pilkada serentak tahun ini serta persiapan pilpres dan pileg 2019 diperkirakan mencapai Rp 46 triliun, terbesar dalam sejarah kita.

Event akbar regional dan internasional juga bakal dilangsungkan di negeri ini. Setelah Asian Games 2018 yang bakal mendatangkan atlet dan kontingen olahraga dari seluruh negara Asia, pada Oktober mendatang di Bali berlangsung Annual Meetings of International Monetary Fund (IMF) & World Bank Group. Tentunya, kenaikan konsumsi di dalam negeri ini perlu diantisipasi dengan perluasan usaha di Tanah Air.

Lalu, bagaimana bisa bunga kredit perbankan diturunkan sementara bunga deposito berpotensi naik? Langkah ini tentu saja bisa dilakukan jika didukung semua pihak, tidak hanya dari perbankan, tetapi juga pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dari sisi perbankan, penurunan bunga kredit itu masih bisa dilakukan dengan meningkatkan efisiensi serta pendapatan lain, seperti fee based income. Pendapatan nonbunga perbankan di Tanah Air ini masih bisa ditingkatkan seperti yang sudah lama dilakukan bank-bank di luar negeri.

Sedangkan dari sisi efisiensi, hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Ini misalnya dengan memperbanyak branchless banking yang investasinya jauh lebih kecil, yang tidak butuh membuka kantor cabang baru yang mahal.

Demikian pula pemerintah perlu meningkatkan sinergi dengan perbankan dengan mempermudah pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR). Selain itu, anggaran KUR ditingkatkan dengan, antara lain memindahkan dari pos anggaran pemerintah yang tidak produktif dan banyak dikorupsi. KUR dengan bunga bersubsidi dari pemerintah tersebut suku bunganya 7 persen tahun ini, turun dari sebelumnya 9 persen.

KUR tersebut juga menjadi alat untuk mengatasi ketidakadilan yang selama ini terjadi pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama ini, UMKM mendapatkan bunga rendah saat menabung, tetapi dibebani bunga kredit yang sangat tinggi saat mengambil kredit bank. Dengan KUR, selain memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, beban bunganya juga tidak lagi mencekik. Hal ini sesuai kondisi UMKM yang memang usahanya belum begitu kuat.

Tentu saja, tugas membantu penurunan suku bunga kredit di Indonesia juga perlu dilakukan oleh OJK. Ini misalnya dengan memberikan insentif untuk bank yang sudah mau menurunkan bunga kredit rata-rata ke level single digit tahun ini, misalnya dengan membebaskan iuran untuk OJK selama 3-5 tahun.

Sumber

Suku Bunga Turun