Kronologi Bocah Dirantai Ayah Tirinya Hingga Ditemukan Di Asrama Polisi

Merdeka.com - Seorang bocah berinisial ZRS (11) ditemukan dengan kaki kanan terantai memasuki asrama kepolisian lolong, Kurahan Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Sumatera Barat. Keberadaan ZRS persis berada di depan rumah dinas Dirreskrimsus Polda Sumbar, Kombes Margiyanta, Kamis (11/1) sekira pukul 23.00 WIB.

Sontak keberadaan ZRS yang kebingungan dengan kaki dirantai membuat Kombes Pol Margiyanta terkejut dan kasihan. Saat itu, polisi berpangkat tiga melati itu sedang duduk di teras rumahnya.

"Saya kira anak tetangga. Anak itu berkata kepada saya tolong om kaki saya dirantai, tolong dibukain om," ucapnya kepada wartawan menirukan perkataan ZRS.

Dia menceritakan pertama melihat anak tersebut. Pertama kali melihatnya rantai di kaki bocah tersebut sangat besar. Menurutnya, rantai itu biasa digunakan untuk pagar dan pakai gembok.

"Saya lihat ada yang tidak beres dengan anak ini dan melihat si anak ketakutan saya suruh masuk ke dalam rumah," tambahnya.

Setelah dibawa masuk ke dalam rumah, Margiyanta kemudian melanjutkan pertanyaan kepada si anak. Ternyata dari pengakuan si anak, apa yang dialaminya sangat miris. Bocah itu mengaku kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bahkan anak tersebut mengaku dieksploitasi oleh ayah tirinya dengan dipaksa untuk mengemis.

"Anak itu pengakuannya tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya. Sedangkan ayah kandungnya sudah bercerai dengan ibu kandungnya dan dia diasuh oleh ibunya. Dia di rantai agar tidak kabur dari rumah. Dia bisa kabur dari rumah, alasan kepada ayah tirinya mau buang air, dan disaat lengah dia langsung lari dari rumah. Saat ditanya rumah dia tidak tau," ucap Margiyanta.

Setelah mendengar semua cerita anak tersebut, Margiyanta kemudian memanggil Kapolsek Padang Barat AKP Armijon untuk datang ke rumahnya. Lantas memerintahkan agar dilakukan upaya hukum karena kondisi anak tersebut sangat memprihatinkan dan butuh perhatian khusus.

"Anak itu dibawa ke Polsek dalam keadaan kaki masih dirantai. Saya tidak buka rantainya karena masih digembok dan rantai yang melilit sangat ketat sehingga kakinya memar. Kalau dibuka paksa bisa sakit kaki si anak. Saya sudah sarankan kepada anggota untuk jangan dibuka paksa, dan panggil saja ahli kunci untuk membuka gemboknya," kata Margiyanta.

Margiyanta menuturkan anak ini perlu perhatian khusus. Apalagi si anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan harusnya mendapatkan fasilitas pendidikan sekolah ternyata tidak dirasakannya. Masalah rumah tangga dan ekonomi diduga sebagai pemicu sehingga merusak masa depan si anak.

"Saya sangat kasihan melihat kondisi anak itu. Saya kasih uang untuk bisa digunakannya nantinya. Harapan kita si anak harus bisa sekolah lagi untuk masa depannya. Perceraian orang tua memang menjadi pemicu anak kerap mengalami KDRT dan bahkan dipaksa untuk mencarinuang. Miris sekali, zaman now masih ada seperti ini," pungkasnya.

[gil]

Sumber

Kronologi bocah dirantai ayah tirinya hingga ditemukan di asrama polisi