Indef Ramal Daya Beli Masih Lesu Di 2018

Jakarta - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati meramal daya beli masyarakat masih akan lesu di tahun depan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya sentimen negatif di pasar tenaga kerja dan sejumlah faktor lainnya, yang diprediksi pada akhirnya akan menggerus daya beli masyarakat.

"Iya (daya beli masih sulit). Karena yang pengaruhi konsumsi ini, yang pertama adalah lapangan kerja. Nah, ini lapangan kerja sampai dengan akhir tahun masih ada masalah. Lalu, stabilnya harga kebutuhan pokok. Apalagi sekarang PLN mau penyederhanaan golongan dan segala macam," katanya saat ditemui di Financial Club CIMB Niaga, Jakarta, Senin (4/12/2017).

Pembangunan infrastruktur yang telah digenjot menurut dia tak berdampak banyak pada penguatan pada sektor tenaga kerja, sehingga tak banyak membantu penguatan daya beli di masyarakat.

"Sekarang berbagai macam infrastruktur dibangun, sektor riil kita terpuruk. Jadi infrastruktur yang dibangun ini layani siapa? Kan impor-impor semua ini," sambungnya.

Dengan kondisi seperti itu, menurutnya pertumbuhan ekonomi bisa digenjot dengan penguatan ekspor melalui pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas yang telah dijalin dengan sejumlah negara. Pasalnya, konsumsi dan investasi dirasa tak cukup kuat membuat ekonomi tahun depan bisa tumbuh jika direfleksi ke realisasi tahun ini.

"Artinya, kalau pun ada langkah-langkah untuk bisa jumping ke 5,4% (pertumbuhan ekonomi), ini harus akselerasi. Nah, secara sektoral, itu adalah industri, tapi memang industri juga tumbuhnya cuma empat persenan. Sehingga, kami enggak bisa optimistis 5,4 tapi 5,1%, kecuali ada terobosan untuk memacu manufaktur terutama yang padat karya," pungkasnya.

(zlf/zlf)

Sumber

Indef Ramal Daya Beli Masih Lesu di 2018
Perusahaan Milik Yusuf Mansur Bidik Dana Kelolaan Rp500 Miliar
Daya beli masyarakat di 2018 diperkirakan masih melemah, ini penyebabnya
Pertumbuhan ekonomi 2017 diramal maksimal 5,1%
Waspada tantangan berat ekonomi di 2018