Enny Sri Hartati : Jangan Sampai Kehilangan Momentum Ekonomi

PERTUMBUHAN perekonomian nasional selama 3 tahun terakhir cukup memuaskan. Naiknya indeks daya saing maupun indeks kemudahan usaha mengindikasi perbaikan sedang dilakukan.

Sejumlah proyek infrastruktur pun bertebaran di berbagai daerah bahkan dalam waktu cukup singkat sudah dapat dinikmati masyarakat luas. Apakah perbaikan perekonomian dan pembangunan infrastruktur serta merta dapat langsung menyelesaikan masalah nasional yang masih menumpuk? Hal-hal apa saja yang harus dievaluasi pemerintah dalam membangun guna mencapai target-targetnya? Akankah perbaikan perekonomian terus berlanjut memasuki tahun politik?

Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, di Jakarta, Kamis (4/1).

Bagaimana Indef melihat outlook perekonomian di 2018? Apa saja yang harus menjadi perhatian pemerintah?

Sebenarnya sangat optimistis karena tahun ini banyak hal akan mempengaruhi aktivitas perekonomian. Di dalam negeri, kita punya event besar pilkada di sekitar 171 kabupaten/kota. Secara internasional, ada Asian Games dan pada Oktober nanti ada pertemuan IMF - World Bank di Bali, tempat berkumpulnya ekonom dunia.

Kegiatan itu akan berimplikasi pada aktivitas ekonomi. Di pilkada, misalnya, satu pasangan kandidat saja bisa spending lebih dari Rp10 miliar (mengacu ke Pilkada 2016). Kalau satu daerah ada 2-3 pasangan kandidat berarti sudah lebih dari Rp20 miliar uang beredar. Kalau itu terjadi di 171 titik, kalikan saja. Artinya, ada potensi untuk menggerakkan ekonomi.

Cuma, pada Pilkada 2016 pertumbuhan ekonomi relatif stagnan di 5%. Itu yang mesti kita perbaiki di 2018. Di Pilkada 2016 pengeluaran uang tidak terkait langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat atau tidak berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga.

Spending money lebih ke belanja iklan di media massa, pagelaran musik artis-artis Ibu Kota, dan membuat atribut kampanye yang bahannya bukan muatan lokal sehingga potensi ekonomi cukup besar tadi tidak berdampak signifikan untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan produktif. Kalau pada era 2009 dan 2014 masih era kampanye terbuka. Untuk menggerakkan massa, ada biaya transportasi per orang Rp50 ribu-Rp 100 ribu. Itu langsung menggerakkan ekonomi karena langsung dibelikan makanan, minuman, sehingga uang langsung berputar di masyarakat.

Sebab itu, di Pemilu 2004, 2009 pertumbuhan sektor produktif, seperti konsumsi meningkat cukup signifikan.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar setiap event besar bisa berdampak ke ekonomi rakyat?

Harus disinergikan. Misalnya, Presiden Jokowi dari awal sudah wanti-wanti agar pembahasan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-KL) pada kementerian dan daerah sudah rampung, dan juga dana desa. Dana transfer itu bisa dioptimalkan para UMKM untuk menciptakan produk-produk unggulan.

Kalau disinergiskan dengan event-event yang ada, akan berdampak langsung pada akselerasi pertumbuhan ekonomi. Cuma sayang, kalau yang kita lihat hari ini yang dipoles hanya stadion, jalan raya, dan jalur kereta api.

Bahkan, ada laporan beberapa media yang menyatakan lampu LED yang digunakan impor dari Jepang dan atribut-atribut lainnya dari Jerman. Kalau itu terjadi, di event-event besar tadi kita kehilangan manfaatnya bagi national interest kita.

Itu yang harus digelorakan sejak sekarang bahwa membangun Gelora Bung Karno dan Jakabaring penting untuk kredibilitas kita di mata internasional. Kalau Indonesia sukses menyelenggarakan event besar, akan menjadi daya tarik investor untuk masuk. Tetapi, manfaat-manfaat yang langsung bersinggungan dengan ekonomi rakyat juga harus dikerjakan. Dan itu akan berdampak pada rakyat kalau ada yang mem-follow-up dan menyiapkan UMKM kita untuk men-support apa yang dibutuhkan di event-event tersebut. Kalau itu dikerjakan, baru akan berdampak pada perekonomian domestik dan berkontribusi pada target pertumbuhan ekonomi 5,4%.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4%, tetapi Indef hanya 5,1% bahkan bisa 4,9%. Apa yang mendasari prediksi Indef tersebut?

Kalau business as usual, pertumbuhan ekonomi kita akan stuck di 5%-an. Sebabnya, motor penggerak ekonomi kita adalah konsumsi rumah tangga dan investasi.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga selama 4 triwulan stagnan di kisaran 4,9%-5%. Walaupun tidak drop, angka 4,9% atau di bawah 5% itu tidak cukup untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Untuk memproyeksikan berapa capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia setiap tahunnya mudah. Kuncinya cuma 2 komponen itu, yakni konsumsi rumah tangga dan investasi. Jadi, kalau konsumsi rumah tangga tidak segera tumbuh di atas 5%, akan kesulitan bagi kita untuk mencapai target 5,4% sekalipun terjadi perbaikan harga komoditas di pasar internasional. Sebab, komponen ekspor sumbangannya tidak besar terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun berdampak positif.

Apa yang perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi bisa loncat ke 5,4%?

Kita butuh akselerasi dari sumber utama. Secara komponen pengeluaran adalah 2 hal tadi dan secara sektoral adalah industri, itu yang harus difokuskan. Makanya, kalau berbagai kegiatan tersebut bisa kita sinergikan untuk kegiatan-kegiatan produktif dalam negeri, itu kan menciptakan kegiatan ekonomi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga perluasan lapangan kerja yang nantinya menjadi sumber kemampuan orang untuk berbelanja.

Kalau kemampuan belanja masyarakat meningkat, itu yang disebut peningkatan daya beli. Sangat diharapkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dapat meningkat di atas 5%. Tetapi kalau tidak ada kegiatan yang produktif, konsumsi sudah pasti hanya stagnan di 5%. Meskipun tidak menganggur, mereka hanya shifting ke sektor informal, seperti pedagang kaki lima, tukang ojek, Buka Lapak di bazar car free day, ini tentu tidak memberikan kontribusi kepada sumber pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok mereka, dan kalau itu terjadi terus menerus dan tidak ada investasi real yang masuk, prediksi Indef pertumbuhan ekonomi kita akan tetap seperti 2017 hanya di kisaran 5%-5,1%.

Bagaimana mewujudkan investasi riil tersebut atau menarik investor

Investasi riil itu yang harus dikejar sekarang. Sebenarnya Indonesia sangat menarik untuk investasi, artinya banyak investor masuk, tetapi mereka masih coba-coba karena mereka hanya masuk di sektor portofolio. Misalnya, pasar modal dan itu bisa sangat spekulatif. Artinya saat mendapatkan return atau gain tinggi mereka masuk. Namun, ketika ada potential lost, mereka segera pergi dan itu justru berisiko. Namun, kalau mereka sudah confident bahwa investasi di Indonesia sangat menjanjikan profitnya dan sudah ada kepastian iklim usaha, dengan sendirinya mereka tidak segan-segan mendirikan pabrik dan berinvestasi di sektor riil.

Pemerintah jangan hanya bisa mengimbau mereka untuk wait and see, justru yang harus segera dilakukan adalah bagaimana membuat mereka tidak wait and see.

Apakah pengaruh tahun politik mengkhawatirkan investor?

Kekhawatiran mereka (investor) bukan hanya setelah pilkada ada instabilitas politik dan keamanan. Bukan itu yang mereka takutkan, karena pengalaman kita di 2004, 2009, 2014 semuanya aman, bahkan Pilkada DKI yang memprediksi orang seperti akan perang pun ternyata berlangsung damai.

Kematangan demokrasi Indonesia sudah teruji dan tidak ada satupun investor yang khawatir bahwa tahun politik ini akan beresiko terhadap stabilitas.

Kekhawatiran mereka justru berdasarkan pengalaman, yaitu ketika ada pergantian rezim bukan hanya presiden, melainkan juga kepala daerah, ada pergantian ketidakpastian regulasi, berubah lagi. Hal itulah yang menimbulkan ketidakpastian iklim investasi. Jadi yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana pemerintah meyakinkan kebijakan-kebijakan publik dan ekonomi itu harus clean and steril dari kepentingan politik. Jadi silahkan politik beregenerasi dan kontestasi dalam pemilihan, tetapi kebijakan-kebijakan ekonomi sudah punya blueprint tersendiri, jadi ada pemisahan.

Tiga 3 tahun terakhir pemerintah gencar membangun infrastruktur. Tujuannya, menghidupkan ekonomi daerah sekitar. Bagaimana tanggapan Indef

Infrastruktur pasti dibutuhkan. Peningkatan kegiatan produksi tentu butuh support dari prasarana dan sarana. Kita punya kelapa sawit, karet dan lain-lain, dan kalau berharap nilai tambah tentunya harus ada manufacturing, pengolahan. Untuk mengolah itu butuh energi, biaya logistik murah dan lain sebagainya. Itulah infrastruktur.

Jadi, setiap pemerintah ingin membangun infrastruktur indikatornya pembangunan fisik. Namun, sejak perencanaan yang harus dihitung output dan outcome-nya. Begitu jalan tol, bendungan dibangun apa dampaknya, dan bagaimana pemanfaatannya. Jangan sampai ada istilah irigasi dibangun tapi tidak ada lahan pertaniannya. Jalan tol dibangun tapi tidak ada industrinya.

Evaluasi dari beragam percepatan pembangunan infrastruktur selama 3 tahun ini adalah sampai saat ini investasi masih wait and see, tidak menimbulkan confident, minat, maupun kepastian orang untuk invest di Indonesia.

Pertanyaannya, apakah memang infrastruktur-infrastruktur yang dibangun pemerintah bukan yang investor butuhkan. Atau infrastruktur-infrastruktur yang dibangun itu masih menimbulkan keraguan, misalnya akan sustainable, atau akan berhenti di tengah jalan, atau infrastruktur itu menjawab kendala-kendala mereka, kendala investasi antara lain tingginya high cost ekonomi di bidang logistik. Itu yang belum ada jawabannya.

Jadi, tiga tahun pembangunan infrastruktur itu belum berdampak pada peningkatan ekonomi?

Pertama, secara umum tentu masyarakat mengapresiasi, misalnya, pertama kalinya di Papua ada tol, di Palembang ada kereta cepat, di Jawa lintas tol dari Jabodetabek sampai Jawa Timur terhubung tahun depan.

Itu suatu prestasi besar, tetapi yang sangat kita butuhkan target pemerintah di awal saat mengeluarkan paket stimulus, yaitu peningkatan produktivitas dan daya saing kita.

Produktivitas artinya bagaimana orang untuk invest, itu yang belum signifikan. Pertumbuhan investasi di triwulan 3 di sektor riil, yaitu manufacaturing secara keseluruhan investasi hanya tumbuh 3%-an. Itu masih jauh dari target pemerintah. Infrastruktur punya time lag pasti, dan membangun infrastruktur fisik juga tidak mungkin besok langsung akan menumbuhkan berbagai macam kegiatan produksi. Namun, minimal ada peningkatan investasi. Kalau pemerintah mulai bangun jalan tol, pengusaha memulai membangun pabrik, jadi setelah jalan tolnya selesai pabrikan jalan. Artinya, kalau sinyal itu ditangkap oleh dunia usaha, seharusnya menjadi concern pemerintah.

Mudah-mudahan masih ada 2 tahun untuk perbaikan kualitas infrastruktur kita, itu harus ada evaluasi. Kedua, ada beberapa pembangunan proyek infrastruktur malah dirasakan kontradiktif oleh masyarakat. Misalnya, beberapa waktu lalu Indef diundang oleh komunitas di Pekalongan, Brebes. Mereka justru worry, takut kalau jalan tol dari Jakarta sampai Surabaya sudah beroperasi, daerah mereka (Pekalongan, Brebes, Batang) justru menjadi kota mati. Image masyarakat itu akan mempengaruhi investasi. Jadi bagaimana antisipasinya, bukan salah tolnya tapi potensi-potensi apa yang mendorong pertumbuhan ekonomi di jalur-jalur tersebut.

Menurut Indef, sektor ekonomi baru apa yang dapat menjadi sumber ekonomi masa depan?

Yang menjadi tren dunia saat ini adalah sektor pariwisata. Kegiatan pariwisata akan bisa menjadi ranah ekonomi kalau disinergikan beragam pemangku kebijakan. Harus ada suatu kemasan yang terintegrasi, misalnya, bagaimana kita bisa membuat suatu direct flight atau kemudahan orang untuk datang ke destinasi.

Seindah apapun Raja Ampat kalau aksesnya susah orang akan berpikir untuk datang. Dan tidak hanya fisiknya yang harus dibangun, seperti bandara tapi masyarakatnya juga harus diedukasi. Kemudian menciptakan usaha-usaha kreatif, dan keunikan-keunikan itu dikemas menjadi bernilai komersial. Itu nanti jumlah orang yang datang meningkat begitu juga dengan pengeluaran mereka.

Terkait generasi milenial, bagaimana pemerintah seharusnya menggarap mereka?

Infrastruktur di era milenial, mestinya tidak selalu fisik. Sekarang ada potensi yang namanya ekonomi kreatif. Karena berbasis teknologi, infrastruktur yang mereka butuhkan adalah kepastian, dukungan kelembagaan, dan pembiayaan.

Generasi milenial itu modal untuk dapat menghasilkan keuntungan dengan meng-create job. Kreativitas mereka itu bisa menjadi agunan, jadi tidak harus aset yang diagunkan, nilai dari kreativitas mereka juga bisa. Jadi infrastruktur-infrastruktur kreatif itu harus diimbangi untuk menunjang kegiatan-kegiatan kreatif dari generasi milenial.

Bagaimana Indef bisa tetap eksis? Bagaimana riset, validasi, dan bagaimana menjaga diri dari intervensi pihak lain?

Para pendiri Indef sudah mendedikasikan Indef untuk kepentingan publik. Sejak dulu kami menekankan Indef adalah lembaga riset independen yang mengedepankan asas obyektivitas.

Kita mempertaruhkan kredibilitas akademis dan itu yang menjadi dasar (fondasi). Kita sering mengkritik pemerintah, tapi di balik kritik itu ada solusi, artinya yang kita lakukan itu sesuai dengan peran dan kontribusi sebagai akademisi. Kita juga menjadi pilar demokrasi, menjadi kelompok intelektual yang juga berkontribusi membangun ekonomi supaya lebih baik.

Hal itu yang menghindarkan kita dari berbagai konflik kepentingan. Semua riset dan kerjasama yang kita lakukan harus berdasar pada akademis dan obyektif, jadi tidak ada yang namanya riset pesanan. Ada hasil-hasil riset kita yang mungkin tidak tepat atau sala itu karena kemampuan keterbatasan bukan karena kesengajaan karena berafiliasi oleh kepentingan tertentu. (X-7)

Sumber

Enny Sri Hartati : Jangan Sampai Kehilangan Momentum Ekonomi