Ekonom Nilai Ganjar Sudah Di Trek Yang Benar, Ini Sejumlah Indikatornya

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG – Empat tahun lebih memimpin Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo dinilai sudah pada trek yang benar.

Ketegasan dan keberhasilan Ganjar membuat provinsi ini sedikit demi sedikit mampu mengejar ketertinggalannya dari provinsi tetangga.

Beberapa program Ganjar juga telah dinilai berhasil oleh pemerintah pusat bahkan diadopsi menjadi program nasional.

Di antaranya pengendalian inflasi dengan aplikasi Sihati, kartu tani, kredit bunga rendah, SMK Jateng, dan pengendalian pungli serta gratifikasi.

Baca: Kondisi Guru Honorer Tak Jelas, Ganjar Desak ini ke Kemenpan RB dan Kemendikbud

Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro FX Sugiyanto menilai kebijakan yang berhasil baik di daerah sudah selayaknya diadopsi nasional.

Terlebih jika efek dominonya bagus untuk masyarakat luas. Ia menyontohkan kredit bunga rendah Mitra 25 dan Mitra 02 Bank Jateng. Saat ini kredit bunga rendah menjadi tren Indonesia.

"Memang seharusnya didorong karena bagaimana pun suku bunga menjadi faktor penting untuk menarik investasi,” kata FX Sugiyanto, Senin (27/11/2017).

Apalagi, kredit usaha kecil memang harus dikembangkan karena kebutuhan akses pembiyaan untuk UMKM sangat tinggi.

Sebagai contoh, dari 4,17 juta usaha di Jateng, 98 persen diantaranya adalah usaha kecil.

“Karena jadi market leader, maka daerah lain arahnya akan ke sana (kredit bunga rendah),” dia menjelaskan. 

Terkait kebijakan Ganjar yang lain, menurut Sugiyanto, dinilai secara umum bisa dikatakan berhasil. Sejumlah program mampu menumbuhkan ekonomi.

Saat ini pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,18%, lebih tinggi dari angka nasional 5,01%.

“Bicara reformasi birokrasi suka tidak suka Jateng sekarang leader,” tegasnya.

Reformasi birokrasi yang patut mendapat apresiasi, menurut Sugiyanto adalah pembangunan sistem GRMS (Government Resource Management System). Kebijakan ini mampu menekan kebocoran anggaran.

“Ini rintisan birokrasi yang bersih. Setiap orang bisa mengakses dan mengawasi penggunaan sumber daya dari perencanaan dan pelaksanaan,” jelas dia.

Dalam hal infrastruktur, Pemprov Jateng juga memiliki peranan signifikan pada infrastruktur pedesaan. Jalan-jalan kampung di desa saat ini mayoritas sudah beton.

“Infrastruktur Jateng sangat bagus, dan sekarang ada tren Jateng tujuan investasi, berarti prospeknya bagus, stabilitas sosial jarang ada gejolak ini tidak lepas dari leadership gubernur,” kata dia.

Sugiyanto juga mengapresiasi naiknya indeks pembangunan manusia (IPM) Jateng dari 68,02 pada 2013 menjadi 69,98 pada 2016.

Sementara soal kemiskinan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, program penurunan kemiskinan Jateng lebih berhasil dari pada dua provinsi tetangga, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Angka penurunan di Jateng selama 2013 hingga 2017 mencapai 282.230 jiwa. Sementara Jabar hanya menurun 128.600 dan Jatim 154.250 jiwa.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Bupati Kendal dr. Mirna Annisa saat meluncurkan majalah Travel Guide edisi VI di Kelenteng Sam Poo Kong Kota Semarang, Minggu (12/11/2017). TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA© Tribun Jateng/Hermawan Handaka Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Bupati Kendal dr. Mirna Annisa saat meluncurkan majalah Travel Guide edisi VI di Kelenteng Sam Poo Kong Kota Semarang, Minggu (12/11/2017). TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA

Ironisnya, kemiskinan di DKI Jakarta dalam kurun waktu yang sama justru bertambah 35.500 orang.

Secara persentase, penurunan kemiskinan di Jateng juga lebih baik dibanding Jatim dan Jabar yang secara luas wilayah dan jumlah penduduk sama-sama besar ini.

Sejak 2013 hingga 2017, penurunan kemiskinan di Jateng sebesar 1,55%, sedangkan Jabar 0,81% dan Jatim 0,78%.

Prestasi Jateng semakin diteguhkan dengan data yang dikeluarkan BPS Jateng.

Pada periode September 2016 hingga Maret 2017, secara nasional pengurangan jumlah penduduk miskin di Jateng menempati posisi pertama.

Dalam periode itu, ada 43.030 orang yang berhasil keluar dari garis kemiskinan di Jateng.

Sedangkan Jatim berkurang 21.520 orang, Yogyakarta berkurang 300 orang.

Beberapa provinsi justru bertambah kemiskinannya seperti Jabar bertambah 330 orang, Jakarta bertambah 3.850 orang, dan Banten bertambah 17.300 orang.

Kepala Bappeda Jateng Sudjarwanto Dwiatmoko mengatakan, baik data akumulasi dari 2013 hingga 2017 maupun data terakhir pada Maret 2017, menunjukkan jumlah penurunan kemiskinan Jateng lebih baik dari provinsi lain.

“Kita lihat angkanya kan bagus kita terbaiklah. Data nasional malah separuh lebih provinsi kemiskinannya naik, jadi kalau ada yang menghembuskan isu negatif mungkin ya nuansanya politis itu biasa,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan itu disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya koordinasi antara Pemprov Jateng dan seluruh pemerintah kabupaten/kota, khususnya dari sisi pelayanan perizinan investasi. 

Sumber

Ekonom Nilai Ganjar Sudah di Trek yang Benar, Ini Sejumlah Indikatornya