Bisnis Kecantikan Dipengaruhi Sosial Media

-->

NERACA

Jakarta - Industri bisnis kecantikan mengalami perubahan di beberapa tahun terakhir. Menurut Deputy CEO Markplus, Jacky Mussry, berkembangnya era digital telah menjadi bagian kehidupan masyarakat, terlebih dengan adanya sosial media yang diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat yang mengarah ke lifestyle.

"Masyarakat ini cenderung lebih suka membelanjakan uangnya untuk merasakan berbagai pengalaman baru dari pada membeli berbagai macam barang. Misalnya liburan, mengunjungi restoran baru ataupun pergi menonton konser dan itu menjadi tren masa kini. Nah, pengalaman yang mereka alami ini diperlihatkan melalui media sosial," ungkap Jacky dalam Aesthetic Outlook 2018 di Jakarta, (11/1).

Di industri kecantikan, para konsumen ini mencari pengakuan sosial dan pribadi lewat media sosial. Maka dari itu, Jacky menyarankan agar para pemain di industri kecantikan hendaknya mengubah pemikiran dari beauty menjadi beYOUty dimana penekanan pendekatan di industri kecantikan adalah dari sudut pandang harapan konsumen. “Jadi tidak hanya dari sisi hasil produknya saja namun juga sebuah brand perlu meningkatkan kepercayaan terhadap konsumen,” katanya.

Jacky juga berharap kepada industri kecantikan untuk melakukan dua hal yaitu meningkatkan attraction and curiosity di masyarakat dengan dua pendekatan yaitu human spirit dan digitalization. “Dua hal tersebut dilakukan karena konsumen pada industri kecantikan akan mudah terpacu untuk memakai produk yang membuat mereka tertarik dan menimbulkan rasa ingin tahu. Sementara untuk pendekatan human spirit dilakukan untuk memberikan fokus kepada manusianya. Sementara di era digital yang tanpa batas ini tentunya digitalisasi haruslah menjadi salah satu pendekatan untuk memenangkan pasar,” tukasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Founder dan President Director Miracle Aesthetic Clinic Group Lanny Juniarti. Lanny yang juga merupakan dokter kecantikan klinik Miracle ini menyebutkan bahwa saat ini masyarakat yang datang ke klinik Miracle mengalami peningkatan khususnya dikalangan generasi millenial. “Bahkan ada yang datang ke Klinik Miracle berumur 16 tahun yang minta merubah wajahnya atau beauty fication,” jelasnya.

Menurut Lanny, apabila 2 tahun lalu permintaan yang diminati adalah bentuk wajah v-shape karena tren foto selfie. Kini seiring dengan perkembangan teknologi dari berbagai platform media sosial, orang orang ingin lebih dari sekedar v-shape maupun selfie. “Sekarang ini fitur live video menjadi tren. Lewat video life tersebut orang bisa berbagi momen unik yang mereka sukai. Namun sayangnya live video berbeda dengan foto yang bisa dilakukan proses editing,” katanya.

Ia memaparkan saat ini bukan hanya sekedar v-shape yang diinginkan masyarakat untuk mendapatkan tampilan dan kontur wajah yang ideal, namun juga perlu adanya reshape, relift dan countoring. Reshape itu membentuk wajah kembali ke struktur yang lebih ideal terutama wajah di bagian bawah agar terlihat seperti huruf v. Untuk relift yaitu mengencangkan atau mengangkat kembali kulit yang kendur. Dan countoring merupakan langkah pembentukan wajah untuk mengembalikan bentuk ideal dan proporsional antara setiap segmen agar terlihat sempurna secara tiga dimensi.

Sumber

Bisnis Kecantikan Dipengaruhi Sosial Media
Tren Berubah, Bisnis Kecantikan Harus "Adaptasi" dengan Media Sosial
Viral, Pemilik Hotel Tolak Permintaan Menginap Gratis Youtuber dan Blogger
Mau Buka Klinik Estetika? Ini 2 Kunci Suksesnya
Minta Gratisan Menginap, YouTuber Seksi Ini Ditolak Hotel Mewah
Diplomasi Olimpiade Semenanjung Korea
Digerebek Saat di Hotel, PSK Ini Bawa Kondom dan Uang Bookingan
Modal Utangan, Raup Untung Jutaan Rupiah
OMG! Jerawat Kendall Jenner Viral Tertangkap Kamera
2018, Indonesia Harus Menjaga Momentum