Anak Takut Dengan Jarum Suntik? Ini Cara Menenangkannya!

Dia menyebutkan, ada salah satu warga Kecamatan Gondang yang dinyatakan positif terkena virus difteri. Kemudian, dilakukan perawatan di rumah sakit di Nganjuk. Selanjutnya, pasien tersebut dinyatakan meninggal. 

“Yang warga Gondang itu berumur tiga tahun,” ungkapnya. 

Dia melanjutkan, selain di Kecamatan Gondang ada pula yang terjangkit di Kecamatan Kota Bojonegoro. Salah satu yang terjangkit adalah seorang mahasiswa.  “Umurnya sekitar 20 tahun,” ujarnya. 

Menurutnya, difteri bisa menyerang siapa saja. Baik anak kecil, pemuda, hingga orang tua. Contoh, warga Kota itulah yang menjadi acuan jika ada yang sudah berumur 20 tahun bisa terjangkit.

Selain itu, ada pula salah satu kasus difteri yang berumur sekitar 60 tahun. “Tapi untuk ini sudah ada penanganan. Sudah berangsur sembuh,” kata dia. 

Sementara itu, adanya satu kasus difteri terkonfirmasi laboratorium secara klinis dapat menjadi dasar kondisi KLB. Alasannya, karena tingkat kematiannya tinggi dan dapat menular cepat. 

Totok menjelaskan, difteri itu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit.

Gejala, lanjut dia, demam yang tidak terlalu tinggi, tetapi yang terjadi adanya selaput yang menutup saluran napas. Selain itu, bakteri tersebut juga mengakibatkan gangguan jantung dan sistem syaraf. 

Dia melanjutkan, difteri adalah penyakit yang berbahaya. Namun, bisa dicegah dengan cara imunisasi. Untuk itu, dinkes setempat telah melakukan penyuntikan difteri di masyarakat Bojonegoro.

Sasarannya berjumlah 327.561 yang terdiri dari umur 1 hingga 19 tahun.  “Sudah kami lakukan imunisasi,” tuturnya. 

Imunisasi dilakukan di sarana pelayanan kesehatan. Seperti Puskesmas hingga polindes. Selain itu, imunisasi dilakukan di sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, ada tiga kali putaran imunisasi ini. Yakni, pada Ferbruari, Juli, dan November.  “Ini sudah sampai 52 persen,” terang dia. 

Disinggung adanya balita yang setelah disuntik difteri lalu mengalami panas, Totok mengaku itu adalah bagian dari efek imunisasi. Sebab, ada suntikan dan vaksin yang masuk ke tubuh balita.  “Jadi memang ada efek. Salah satunya demam,” terangnya. 

Apalagi, kata dia, ada suntikan yang membuat kulit luka. Demam yang dialami oleh balita itu terjadi karena daya tahan tubuh yang kurang kuat.  “Dua sampai tiga hari bisa reda kok panasnya,” ujarnya. 

Dia mengaku, saat dilakukan imunisasi itu banyak yang takut. Karena, wajar masih ada yang takut dengan jarum suntik.

“Bagi masyarakat yang menjadi sasaran imunisasi agar menjalankan imunisasi itu. Agar tidak terjadi masalah yang berat dikemudian hari,” tandasnya.

(bj/dka/aam/nas/bet/JPR)

Sumber

Penderita Difteri Bertambah, Mahasiswa Jadi Korban