Anak Anak Generasi Ipad Tidak Siap Menulis Tangan

Saat diwawancarai oleh Jawa Pos Radar Semarang terkait perjuangannya mendirikan Monash Institute, doktor Ilmu Politik ini menjawab kalau disebut perjuangan itu agak berlebihan. Sekali lagi, anggap saja itu iseng-iseng walaupun memang agak serius juga. Sebab, awalnya, Nasih hanya mengumpulkan 20-an aktivis mahasiswa UIN Walisongo Semarang untuk ia latih menulis pada Sabtu dan Minggu. "Itu terjadi pada tahun 2010. Saat itu, istri saya menjalani masa awal kuliah di Program Spesialis Anak di FK Undip. Daripada saya bengong di rumah, maka saya gunakan waktu sendiri itu untuk melatih mereka," ungkapnya.

Dalam melatih muridnya menulis, Nasih membuat aturan yang terbilang agak ketat, untuk mengukur kesungguhan mereka. "Diantaranya tidak boleh telat walaupun sedetik. Jika telat, tidak boleh ikut agenda. Dan jika tidak ikut sekali, apapun alasannya, tidak boleh ikut lagi selamanya," ujarnya.

Akibat dari aturan yang tegas dan ketat itu, yang bertahan tinggal belasan saja. Namun, hasilnya lumayan. "Diantara mereka ada yang cukup produktif menulis di media massa. Mereka bahkan seolah berlomba mengisi kolom wacana atau opini," tutur bapak dari dua anak ini.

Diakui, karena hal tersebut, Nasih termotivasi untuk mengembangkan program itu menjadi lebih intensif. Caranya merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas lulusan SMU, agar bisa dibina dengan lebih baik lagi dengan hasil yang juga bisa diharapkan lebih baik. "Dalam benak saya saat itu, tidak ada pilihan lain kecuali membuat rumah perkaderan. Dan karena saya adalah orang pesantren, maka desainnya adalah pesantren plus. Ngaji kitab kuning dan belajar Al-Qur’an adalah wajib untuk menopang intelektualitas dengan basis khazanah intelektual Islam klasik,” paparnya.

Dikatakannya gedung Monash Institute saat ini berbeda dengan yang dulu. Saat itu, Rumah Perkaderan Monash Institute itu belum punya tempat tinggal (asrama, Red) yang tetap dan bagus seperti sekarang. "Jangan lihat sekarang dengan tiga asrama dan tempat belajar yang megah dan nyaman ini. Dulu berawal dari kontrak rumah di seberang kampus III UIN. Angkatan pertama kebanyakan adalah murid-murid atau saudara-saudara teman-teman kuliah saya dulu. Bahkan ada anak dari orang yang sering bantu-bantu ibu saya di kampung sana," ujarnya.

Nasih mengaku, dalam mendirikan dan mengelola Rumah Perkaderan tersebut, hampir tidak ada keluh kesahnya. "Bahkan saya bisa menjalaninya dengan semangat, dan yang terpenting kemudian saya merasa harus menjadi terus lebih baik. Sebab, dalam mendidik, tentu saja tidak cukup hanya dengan mengajari dan memerintah, tetapi juga harus memberikan teladan konkret," katanya.

Masalahnya adalah pada pencapaian target. Pria penghafal al-Qur'an sejak di bangku SMU ini terinspirasi oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang manaqibnya rutin dibaca oleh masyarakat Nahdlatul Ulama' (NU). Dia mengatakan bahwa guru ideal haruslah memiliki tiga kualitas, yaitu: ilm al-ulamâ’ (kapasitas keilmuan para ulama’), hikmat al-hukamâ’ (hikmah/kebijaksanaan kaum bijak bestari), dan siyâsat al-mulûk (kemampuan politik para raja). "Ini cocok sekali dengan pandangan hidup saya, bahwa Islam ini tidak sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, termasuk kalangan cendekianya, bahwa politik adalah medan kotor yang karena itu harus dihindari. Umat Islam, apalagi di Indonesia adalah umat mayoritas, haruslah berperan aktif dalam politik,” katanya

Nasih menambahkan, untuk memotivasi para mahasantri, ia mendatangkan teman-temannya yang pengusaha dan akademisi. "Teman-teman saya yang kebetulan sedang di Semarang, atau sekedar akan lewat Semarang, saya minta mampir untuk berbagi pengalaman," katanya.

Kuliahkan Mahasantri ke Luar Negeri

Ternyata santri yang Nasih bina ini tidak hanya mampu untuk kuliah di dalam negeri. Ada beberapa santrinya yang berhasil menempuh pendidikan ke luar negeri.

"Sebenarnya yang menguliahkan ke luar negeri bukan saya. Saya hanya mendapatkan informasi saja dari teman-teman bahwa ada beasiswa kuliah ke luar negeri. Ya paling memberikan support ala kadarnya saja untuk keperluan awal hidup disana. Atau biaya transport yang harus ditanggung sendiri. Bahkan ada yang saya tidak campur tangan sama sekali. Mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri," tuturnya.

Dalam hal pendidikan formal, Nasih memberikan motivasi tersendiri agar santrinya dapat menjadi doktor pada usia sebelum 30 tahun. "Hitungannya sederhana saja; saya lulus S3 umur 30 tahun. Dengan pembinaan yang lebih intensif, mestinya mereka bisa lebih cepat. Dan Alhamdulillah sekarang sudah mulai panen master. Angkatan pertama sudah ada yang masuk program S3. Para mentor generasi awal sudah ada yang hampir lulus S3," katanya.

Adapun bisnis yang ia kelola terus berjalan. Ada yang naik, ada yang turun. Karena bisnisnya di bidang pertanian. Dan kebijakan Pemerintah di bidang pertanian sangat tidak berpihak kepada petani. Namun, itu tantangan tersendiri baginya. Diakui, dari usaha menanam tebu, menggiling gula merah, menanam bawang dan memproduksi bawang goreng itu, ia berharap Allah memberikan berkahNya.

Tentang politik, Nasih memandangnya sangat penting. Bukan hanya karena disiplin keilmuannya adalah politik. Namun, terlebih karena secara faktual ia rasakan betapa pentingnya struktur kekuasaan politik untuk menolong. "Dengan uang saya, saya mungkin bisa membantu cukup banyak orang. Namun, jika ada kekuasaan, saya bisa menggunakannya untuk menolong semua orang," jelasnya.

Ia mengaku, pengalaman berpolitik yang ia jalani juga penting sebagai bahan ajar kepada para mahasantri agar mereka mempersiapkan diri secara lebih baik, sehingga lebih siap menjalani kehidupan politik yang penuh dengan persaingan.

Target ke depan, Nasih berharap, pada 20-30-an tahun yang akan datang, kader-kader yang telah mendapat tempaan keras, akan menjadi pejuang-pejuang yang benar-benar memiliki komitmen tinggi untuk melakukan perbaikan. Baik dengan jalan kultural maupun struktural. "Berdasarkan pengalaman dari berbagai negara yang mengalami perubahan drastis, rentang waktunya memang 20-30-an tahun itu. Sekedar contoh Turki. Mesir juga walaupun kemudian Ikhwan jatuh lagi. Intinya, usaha perbaikan harus kita lakukan," pungkasnya.

Memilih Ber-HMI

Nasih menceritakan, pada 1997 mulai masuk kuliah, tepatnya di Jurusan Fisika UNNES, persis menjelang metamorphosis dari IKIP. Saat itu ia mencari organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi dengan NU. Informasi yang ia punya, baik dari bacaan maupun dari mulut ke mulut, organisasi kemahasiswaan NU adalah PMII, dan Muhammadiyah adalah HMI.

Namun ternyata salah. Karena underbow Muhammadiyah adalah IMM. Sedangkan HMI adalah organisasi independen yang di dalamnya terdapat mahasiswa muslim dari berbagai macam latar belakang. Ada dari Muhammadiyah, NU, Persis, al-Washliyah, Hidayatullah, dan yang tidak punya latar belakang keluarga dengan afiliasi organisasi keagamaan. "Namun, yang membuat saya lebih tertarik kepada HMI adalah karena lebih dinamis. Para aktivis HMI aktif mendekati saya dengan mengajak diskusi tentang tema-tema keislaman dan ke-Indonesiaan. Dan pilihan saya ternyata sangat tepat. Di dalam HMI, saya mengenal Islam secara komprehensif, sehingga mampu melepaskan fanatisme yang tidak perlu," tuturnya.

Tidak ada yang istimewa dalam membagi waktu. Pokoknya ia jalani saja mengalir. Bahkan Nasih tidak punya staf yang mengatur agenda. "Cukup saya catat dalam smartphone. Jika waktunya cocok, saya iyakan. Jika pas sudah ada agenda, ya mohon maaf," katanya.

Aktivitas rutin Pengasuh Rumah Perkaderan Monash Institute ini setelah maghrib sampai isya’ atau sekitar pukul 21.00 dan setelah shalat subuh sampai pukul 06.00 adalah mengajar Tafsir dan Hadits, juga menyimak hafalan para mahasantri. Selain itu, mengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI di Depok, FISIP UMJ di Ciputat, dan STEBANK di dekat Salemba Jakarta Pusat. "Kalau akhir pekan aktivitas lebih banyak di Pesantren Monash Institute menyimak para mahasantri yang setoran hafalan Al-Qur’an," jelasnya.

Dia menjelaskan, ada kalanya menjalani aktivitas luar yang harus “membuang” waktu dalam perjalanan. "Ini yang perlu agak disiasati. Intinya, waktu melakukan perjalanan ke sana kemari itu harus saya manfaatkan seoptimal mungkin. Waktu menunggu di bandara atau stasiun, saya manfaatkan untuk membaca buku dan artikel, atau menulis, karena objek bacaan tidak goyang-goyang. Saat berada di atas pesawat, kereta, atau mobil, saya manfaatkan untuk membaca Al-Qur’an. Kalau ngantuk lagi, ya tidur saja," ujarnya.

Selain itu, aktivitasnya adalah mengajar atau menjemput rizki atau uang. "Menulis adalah sumber penghasilan saya sejak semester II kuliah. Sebab, uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya perlu uang. Dan perintah jihad juga dengan uang, bukan sekedar omong doang. Dengan cara inilah tidak ada sedetik pun waktu terbuang," katanya.

Adapun waktu berkumpul dengan keluarga hanya pada Jumat sampai Minggu. Sebab, Senin sampai Kamis, doktor ilmu politik ini biasanya di Jakarta. Bersama anak-anaknya, Nasih sering berkumpul di pesantren dibandingkan dengan di rumah. "Anak-anak biasanya ikut saya ke pesantren untuk salat berjamaah dan belajar Al-Quran sampai mereka tertidur dan bertemu lagi pada saat salat subuh. Mereka sering tidur di pesantren dibandingkan di rumah bersama ibunya,” ujarnya.

Sedangkan dengan istrinya, Nasih hanya ada sedikit waktu untuk bersamanya. "Dengan istri, tentu ya di atas pukul 21.00 yang seringkali dia sudah tidur. Tapi kami sudah membangun kesepakatan saat sebelum menikah bahwa di antara kami berdua harus ada yang mengerjakan aktivitas sosial dan pendidikan yang menuntut aktivitas di luar rumah,” paparnya.

Nasih mengaku, waktu sarapan biasanya menjadi waktu untuk ia sekeluarga berkumpul semuanya. "Dan yang terpenting sesungguhnya adalah kualitas dalam berkumpul. Apalagi banyak waktu berpisah sekarang bisa dijembatani dengan saling kirim pesan via WA dan bisa video call kalau sedang di jalan dan senggang. (Siti Qoniatun Ni’mah)

(sm/ida/ida/JPR)

Sumber

Dr H Mohammad Nasih Membangun Pesantren Plus