62,5 Persen Jajanan Anak Sekolah Tercemar Bakteri

VIVA – Balai Besar POM Yogyakarta menemukan, 62,5 persen jajanan anak sekolah tidak memenuhi persyaratan akibat tercemar bakteri mikrobiologi. Hal ini tentunya berdampak pada gizi dan kesehatan anak-anak di masa tumbuh kembangnya.

Menurut Warung Anak Sehat (WAS) Project Manager Sarihusada, Talitha Andini, permasalahan gizi anak saat ini tercatat mengalami double burden yaitu malnutrisi dan obesitas. Terlebih, masalah tersebut meliputi anak di usia 5-12 tahun.

"Anak usia 5-12 tahun itu dominan di sekolah, sedangkan jajanan sekolah sudah didominasi oleh pencemaran mikrobiologi. Untuk itu, anak sekolah sangat butuh fasilitas tempat penyediaan makanan yang sehat melalui program Warung Anak Sehat (WAS)," ujar Talitha, ditemui dalam kunjungan media di WAS SDN Gondolayu, Yogyakarta, Selasa 4 November 2017.

Talitha menjelaskan, program WAS ini mencakup edukasi dan bimbingan pada anak-anak di sekolah untuk mengonsumsi makanan dan jajanan sehat. Maka, warung anak sehat itu mencakup jajanan sehat yang berasal dari para penjual atau ibu-ibu yang telah melalui pelatihan program WAS.

"Kami menyediakan gerobak WAS dan pelatihan untuk ibu-ibu WAS agar mencapai pengolahan makanan sehat untuk anak. Merajuk dari BPOM, ada lima landasan makanan sehat yaitu warna yang tidak mencolok, bau yang tidak menyengat, rasa yang terlalu terasa, personal hygiene penjual, dan tempat berdagangnya,” ujar dia.

Dampak dari adanya WAS ini memberi efek baik pada anak-anak di SDN Gondolayu. Menurut Kepala Sekolah SDN Gondolayu, FX Sukirdi, anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang lebih memadai dengan konsumsi makanan yang bergizi.

"Dulu anak-anak jajan di luar, efeknya tiap upacara hari senin banyak yang pingsan karena kelelahan atau tidak kuat berolahraga lama. Setelah mengikuti program WAS, anak-anak jadi lebih kuat dan tahan untuk beraktivitas lebih lama," ujarnya.

Sumber

62,5 Persen Jajanan Anak Sekolah Tercemar Bakteri